ayat mulia~
Sunday, 12 April 2009
Saturday, 11 April 2009
pemikiran salafi
Yang dimaksud dengan "Pemikiran Salafi" di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur'an dan tuntunan Nabi SAW.
Kriteria Manhaj Salafi yang Benar
Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
Berpegang pada nash-nash yang ma'shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
Mengembalikan masalah-masalah "mutasyabihat" (yang kurang jelas) kepada masalah "muhkamat" (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath'i.
Memahami kasus-kasus furu' (kecil) dan juz'i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
Menyerukan "Ijtihad" dan pembaruan. Memerangi "Taqlid" dan kebekuan.
Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
Dalam masalah fiqh, berorientasi pada "kemudahan" bukan "mempersulit".
Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
Menekankan sikap "ittiba'" (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat "ikhtira'" (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.
Inilah inti "manhaj salafi" yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur'an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur'an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan "negara ilmu dan Iman". Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.
Citra "Salafiah" Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra
Istilah "Salafiah" telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap "salafiah". Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda "debat" dan "polemik", bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan "Salafiah" ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.
Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini "terbelakang", senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan "salafiah" dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan"pembaruan Islam" pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.
Mereka telah menumpas faham "taqlid", "fanatisme madzhab" fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi "ashobiyah madzhabiyah" ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah "Raf'l - malaam 'anil - A'immatil A'lam" karya Ibnu Taimiyah.
Demikian gencar serangan mereka terhadap "tasawuf" karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab "Al-Hulul Wal-Ittihad" (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan "tasawuf" untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari "Majmu' Fatawa" karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah "Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in", dalam tiga jilid.
Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka
Yang pelu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz'i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.
Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam "taqlid" yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj "nalar" dan "mengikuti dalil". Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim
Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: "Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia".
Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: "Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid".
Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.
Namun, orang seringkali melupakan, sisi "dakwah" dan "jihad" dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna "Salafiah" yang sesungguhnya.
Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan "salafiah", dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi "salafiah", ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah "Al-Manar' yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa "bendera" salafiah ini, menulis Tafsir "Al-Manar" dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Rasyid Ridha adalah seorang "pembaharu" (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca "tafsir"nya, sperti : "Al-Wahyu Al-Muhammadi", "Yusrul-Islam", "Nida' Lil-Jins Al-Lathief", "Al-Khilafah", "Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid" dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan "Manar" (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran "salafiah"nya.
Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah "emas" yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :
"Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat."
Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai "pengikut Salaf".
(disalin dari buku "Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah" karya Dr.Yusuf Al Qordhowi)
Friday, 10 April 2009
مراتب الفاظ التعديل
| | | | | | | |
| ما دل على الصدق الجملة: صالح الحديث / ما أعلم به بأسا / صدوق إن شاء الله / أرجو أن لا بأس به / صويلح / مقبول | من قصر عن درجة الرابعة: شيخ / فلان قد روى الناس عنه / فلان مقارب الحديث / محله الصدق / رووا عنه / الى الصدق ما هو / شيخ وسط / شيخ صالح الحديث / جيد الحديث / حسن الحديث | من قصر من درجة الثالثة: صدوق / لا بأس به / محله الصدق / مأمون / خيار / ليس به بأس / إلا أنه أخر | من أفرد بصفة من صفة التوثيق: ثقة / متقن / ثبت / حجة / حافظ / ضابط | المؤكد: ثقة ثقة / ثبت ثبت / ثقة ثبت / ثقة حجة / ثقةحاظ | ما دل على المبالغة فى التعديل: أوثق الناس / أثبت الناس / اليه المنتهى فى التثبت | |
| المرتبة | المرتبة | المرتبة | المرتبة | المرتبة | المرتبة | عند |
| 4 | 3 | 2 | 1 | | | ابن أبى حاتم |
| 4 | 3 | 2 | 1 | | | النووي |
| 4 | 3 | 2 | 1 | | | ابن الصلاح |
| 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | | العراقي |
| 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | | الذهبي |
الإحتجاج بالأربعة الأولى منها وأما الخامسة لا يحتج بأحد من أهلها لكون ألفاظها لا تشعر بشريطة الضبط بل يكتب حديثهم ويختبر. وأما السادسة فالحكم فى أهلها دون أهل التى قبلها. وفى بعضهم من يكتب حديثه للإعتبار دون إختبار ضبطهم لوضوح أمرهم فيه
mohd zakaria mahadi
empayarsunnah.blogspot.com
Sunday, 5 April 2009
Lady First


Satu istilah masyhur yang telah dicipta oleh pihak tertentu kononnya yang lebih bertamaddun dari negara lain iaitu ‘lady first’. Satu istilah yang sangat popular dan yang sangat suka mempopularkan istilah ini adalah orang Islam.
Telah diketahui bahawa kebanyakan orang-orang kafir yang anti Islam mengakui dirinya adalah orang yang bertamaddun dan semua orang perlu mengikuinya. Mereka tidak menyukai Islam hinggakan mana-mana perinsip yang berbau Islam pasti akan ditentang dengan cara halus. Kerana mereka sedar apabila tentangan dibuat secara terang-terangan semua umat Islam akan bangkit melawan tentangan tersebut. Idea-idea dan perinsip baru yang bertentangan dengan Islam dicipta dan disebarkan kepada umat Islam sendiri sehingga terpengaruh, terpedaya dan terjebak dalam kancah penghapusan tradisi Islam itu sendiri.
Kononnya dengan mendahulukan kaum perempuan bermaksud memuliakan dan meninggikan martabat golongan tersebut. Hakikatnya jika dilihat pada masyarakat barat yang kononnya menyelamatkan hak wanita dan memartabatkan kedudukan wanita sebenarnya sedang melelong maruah wanita-wanita mereka. Lihat sahaja berapa ramai wanita mereka yang mempamerkan peha dan dada mereka kepada khalayak awam tanpa segan silu. Tiada halangan ke atas mereka untuk melakukan perkara yang sedemikian bahkan lebih. Inikah yang dinamakan memartabatkan wanita. Perinsip beginikah yang perlu dicetak pada minda masyarakat Islam. Sudah tentu tidak, kerana ini bukanlah perinsip yang memartabatkan wanita tetapi menjual wanita dengan menggunakan topeng ‘lady first’.
Al-Quran banyak mengisyaratkan kepada kita bahawa kaum lelaki adalah orang yang patut berada di hadapan wanita, bukan sebaliknya. Jika diperhatikan pada firman-firman Allah yang berikut, sebutan susunan antara lelaki dan perempuan tersebut pasti kita akan membuatkan kita terfikir bahawa Allah sedang mengisyaratkan sesuatu kepada hambanya dalam bentuk tersirat. Firman Allah di dalam surah al-Ahzab ayat 35 yang bermaksud:
((Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuanyang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar))
Di dalam surah al-Tawbah ayat 9 bermaksud:
((Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar))
Allah menyebutkan lelaki dahulu dan kemudian wanita sebagai isyarat bahawa orang lelaki perlu berada di hadapan. Bukanlah untuk merendahkan wanita atau untuk menyisihkan mereka tetapi untuk mengumandangkan seruan bahawa orang lelaki adalah orang yang sepatutnya menjadi pelindung wanita oleh itu mereka perlu berada dihadapan sebagai benteng. Bukan seperti omongan pihak barat yang menggunakan istilah ‘lady first’ yang mana menjadikan wanita sebagai umpan atau pendahulu kepada lelaki. Kesimpulannya istilah ‘lady first’ tidak sesuai digunakan oleh masyarakat Islam berdasarkan firman Allah di dalam surah al-Nisa ayat 34 bermaksud:
((Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita))
Islam menyeru kepada kaum lelaki agar menjadi payung kepada kaum wanita dan memberikan bantuan kepada mereka dengan cara yang betul sebagaimana nabi Musa memberikan pertolongan kepada anak gadis nabi Syu‘ib untuk menangguk air di perigi.
mohd zakaria mahadi